
YAPENSA.OR.ID, - Petani, itulah panggilan untuk orang yang bergerak dalam bidang pertanian, orang yang patut dibanggakan dikehidupan kita sebab mereka lah pelaku dalam proses adanya bahan makanan dan minuman didunia ini contohnya kopi.
Berbicara tentang kopi, Indonesia terkenal sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di dunia utamanya jenis arabika dan robusta. salah satu wilayah Indonesia penghasil kopi terbesar selain Sumatera adalah pulau Sulawesi, salah satunya di Kabupaten Bantaeng dengan jumlah Petani Robusta sebanyak 2.860 KK dan arabika 1.589 KK (sumber:Dishutbun Bantaeng tahun 2015)
Hamparan kebun kopi yang paling banyak ditemukan adalah di Desa Labbo, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng. Terlihat sejumlah titik Kebun kopi yang dirawat, dipangkas dan tertata rapi karena warga mengakui kopi dianggap sebagai warisan kakek nenek penghasil utama sumber keuangan mereka sehingga bisa berhaji dan menyekolahkan keluarganya dari masa penjajahan sampai masa sekarang sehingga tanaman kopi terus dibudidayakan.
Musakkir (baju hijau pada foto) salah satu Petani sukses di Desa Labbo, berawal dari keikut sertaannya bersama Kelompok tani "Baji Ati 2" dalam mengikuti program pendampingan Petani Kopi oleh Yayasan Pensa Global AgroMandiri (Yapensa) bersama Dishutbun yang di support oleh The Ford Foundation.
Dalam pendampingan Yapensa, beliau sering mengikuti pelatihan/sekolah lapang seputar budidaya, koperasi, pengolahan, kewirausahaan bahkan mengikuti studi banding ke Pusat penelitian kopi dan kakao Jember, ke Kintamani Bali serta ke beberapa perkebunan PTPN di jawa timur yang mejadikan Musakkir semakin semangat untuk meningkatkan kualitas kopi didaerahnya.
Berbekal dari hal tersebut, Musakkir yang akrab dipanggil Sakkiri (32 tahun) mengambil beberapa terobosan antara lain menjadi pedagang pengumpul untuk kelompok taninya dengan harga lebih tinggi untuk kualitas kopi yang baik, memberikan arahan ke warga desa agar kiranya melakukan pemangkasan, pemupukan dan pemberian pohon pelindung serta mengajak anggota kelompoknya untuk ikut bergabung kedalam Koperasi yang baru saja dibentuk oleh Dinas Koperasi bersama Yapensa.
"Saya sangat bersyukur ikut dalam pembinaan ini, sebelum mengenal yapensa saya hanya Petani dan sekali-kali sebagai kuli bangunan yang pendapatan saya terbilang tidak mencukupi untuk menafkahi anak istri" ungkap Musakkir.
Selain teori pelatihan kewirausahaan, Musakkir pun diperkenalkan oleh Yapensa kebeberapa eksportir/pedagang besar di Makassar seperti Coffindo dan Megah Putera sekaligus mengikuti praktek perdagangan yang didalamnya juga ada cara pengolahan pasca panen yang benar.
"Banyak sudah saya kenal pedagang besar di Makassar karena Yapensa, bahkan ada beberapa perusahaan lainnya yang mempercayai saya untuk jadi pemasok kopi Arabika bermutu baik di gudangnya hanya karena saya Petani sekaligus pedagang binaan Yapensa", tambahnya.
Dalam kesehariannya, Musakkir sekarang telah memiliki mobil pengangkut hasil dari berdagang kopi dan sekarang meluaskan usahanya dengan penyewaan mobil untuk pengangkutan Padi dan hasil bumi lainnya bahkan telah menjadi mobil pengantar alat perkawinan lintas kecamatan.
Musakkir berharap kiranya yapensa masih terus mendampingi dan membina Kelompok Tani di Desa Labbo agar dapat menciptakan Petani kopi sukses lainnya.
(Prd)
Tag : https://www.fordfoundation.org/ , http://www.worldbank.org/, http://www.stfuinjakarta.org/ , http://www.puantamanipi.com , http://makassarkota.go.id/home, http://gowakab.go.id/ , http://www.aeki-aice.org/ , http://www.bantaengkab.go.id/ , http://www.sinjaikab.go.id/v2/ , http://enbizinetwork.co.nr , http://jenepontokab.go.id/ , www.bulukumbakab.go.id,