
MAKASSAR - Salah satu kedai kopi sederhana bernama Fat Goat kudatangi sendiri. Tempatnya di Jl. Barang Caddi, di pinggiran Kota Makassar. Dengan peralatan yang seadanya dan tampilan kedai yang tak mewah amat, beberapa peraciknya lebih banyak menyeduh kopi selama kedatanganku. Semuanya masih muda. Enerjik.
"Kurang baik, kalau peracik harus main mesin terus. Kita ini, seharusnya menjaga cara orang tua dulu meracik dengan menyeduh. Sekali-kali kembali ke masa lalu lah. Modernitas terlalu banyak di kota ini," ujar Syaldi, pemilik Kedai Kopi Fat Goat belum lama ini.
Asal tahu saja, dalam pikirannya, selalu berisi dengan gagasan-gagasan yang elok. Baru-baru ini, ia menggelar lomba manual brew atau meracik kopi secara manual. Alasannya sederhana. "Biar masyarakat lebih tertarik mengenal kopi dan rasa apa saja yang ada pada kopi itu. Orang awam, lebih banyak tahu soal kopi hitam dengan ampas, atau kopi hitam yang diberi gula pun susu."
Menarik menurutku. Malahan, aku sendiri sempat ditawari dengan sajian yang tak lazim kusesap. Suguhan itu kopi rasa pisang, kopi rasa kismis, juga salak--semua tak pakai gula. Tampilannya sama, berwarna hitam. Soal gelasnya, tak jadi soal. Toh, icip kopi paling utama adalah seberapa pahit dan rasanya yang ditimbang di lidah.
"Sebenarnya, semua kopi bagus. Tergantung selera penikmatnya bro." Betul juga. Masa minum kopi yang tak sesuai dengan peracik kopi profesional, mesti disalahkan? Kukira, tak ada aturan yang baku soal cara meminum kopi.
Di Makassar, perkembangan kedai kopi dewasa ini pesat sekali. Bak virus, kata Syaldi. "Entah itu mereka yang memang mengerti atau bahkan cuma mengikuti zaman. Sekarang kan lagi booming ya," ujarnya serius, sembari menyibaki rambut panjangnya ke belakang telinga.
Anda yang ingin berkunjung atau sedang berada di Makassar, bisa melihat keadaannya kok. Mulai dari warung kopi yang membengkak, juga kedai yang tampilannya semakin beragam. Masing-masing tentunya mengusung konsep yang memancing pandangan mata, serta bisa meninggalkan jejak di otak pengunjung yang senang kongko.
Omong-omong, Syaldi berujar lagi ihwal serbuan kopi dari luar. Diakuinya, kualitas kopi Sulawesi terbilang bagus. Terbukti dengan banyaknya perusahaan besar yang mengambil kopi dari Sulawesi untuk dijual keluar kota maupun negeri. Satu pesannya, sebelum mati Anda harus coba kopi Kahayya, dari tanah Bulukumba.
"Soal pasaran kopi di tanah sendiri, kami pelaku pelaku kopi lokal, cuma kebagian kopi yang... Ya, tahu sendirilah," Syaldi menyirati pesan di sana.
Maka dari itu, pemberontakan dirasanya perlu. Fat Goat sendiri berdiri agar orang bisa mencicipi kopi alami dengan harga yang terjangkau. Pesannya, tak usah pergi jauh ke luar kota kalau tanah di tapakan sendiri bahkan lebih subur dari tanah orang asing. "Fat Goat jualan kopilah. Tanpa gula. Itu nilainya. Selalu ada pembeda kok dari yang lain. Kalau penasaran, ke Fat Goat," imbaunya.
"Terakhir saya sih cuma berharap, semoga banyak kedai kopi yang lebih serius memerhatikan kualitas kopinya. Biarkan rasanya yang berbicara. Menurutku, kopi itu rasanya yang perlu, bukan tampilan luarnya," tutup Syaldi.