
YAPENSA.OR.ID, Toraja - (27 Okt 2018) PT. Sulotcojaya Abadi di Kecamatan Awan Rante Karua Toraja Utara merupakan tujuan perdana dalam studi banding kali ini, untuk mendapatkan hasil studi banding yang efektif, rombongan pun tak surut semangatnya mengelilingi perkebunan perusahaan anak kapal api tersebut yang luasnyalebih dari 1000 hektar diketinggian antara 1500-1700 mdpl.
Yapensa bersama Koperasi binaan dan pengurus MPIG Kopi Bawakaraeng Memulai perjalan masuk melalui perkebunan wilayah asri hingga wilayah citra, rombongan mengunjungi area pembibitan diketinggian sekitar 1700 mdpl yang dipandu oleh Heryanto (Kepala wilayah Citra) dan Marten Pasa'bi (asisten Kepala Wilayah Citra).
Heryanto berkata "bibit ini merupakan bibit untuk menggantikan tanaman kopi yang sudah tua atau yang rusak karena hama atau penyakit, dan kami memiliki beberapa pekerja yang aktif dan terlatih dalam menghasilkan bibit yang sehat dan siap tanam".
Beliau sempat mengajak rombongan studi banding ke penggorengan atau pengasapan teh peninggalan zaman Belanda dan menjelaskan sejarah awalnya dimana dahulunya merupakan perkebunan teh yang sekarang diganti menjadi perkebunan kopi.
Marten Pasa'bi memperjelas bahwa ada sekitar sejuta pohon bahkan lebih yang masih terawat oleh petani dan ada sekitar 200 hektar telah dijadikan hutan konservasi untuk keberlangsungan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam lainnya.
Rombongan pun diajak ke gudang penyimpanan green bean yang sekaligus sebagai tempat beberapa mesin raksasa milik PT. Sulotcojaya Abadi seperti mesin poles dan huller dari yang model lama sampai model terbaru.
Selain itu rombongan diajak ke lokasi proses fermentasi, dimana beberapa tahun lalu sistemnya yakni fermentasi 24 jam ditambah 12 jam dengan sistem perendaman air dan sekarang memiliki sistem fermentasi 36 jam sekaligus tanpa perendaman air lalu ke pencucian dan penjemuran.
Banyak hal pengetahuan berharga yang didapatkan dari kunjungan ke PT. Sulotcojaya Abadi, perkebunan kopi terluas di Sulawesi Selatan yang memiliki pola kemitraan usaha bersama masyarakat sekitar yakni penerapan bagi hasil 75 % hasil panen untuk petani dan dibeli kembali oleh perusahaan dengan harga bagus, dan 25 % untuk perusahaan
.
Tak berhenti sampai disitu, untuk menambah efektivitas studi banding, kunjungan pun bergegas ke MPIG Kopi Enrekang Kalosi sebagai perbandingan dengan MPIG kopi Bawakaraeng yang sekarang dengan diperjuangkan oleh Yapensa dengan Pemda Sinjai berserta pengurus MPIG. (prd)